Waktu baca-baca di Tabloid Nova, ada info tentang ini, copas aja, supaya dibaca sama Ayahnya Alaya. Semuanya kan perlu belajar. Bunda juga tetep belajar menjadi Ibu ideal bagi Alaya.

1. Sesibuk apa pun, sediakan waktu bersama si kecil. Ini sangat membantu anak merasa nyaman, merasa kompeten, sekaligus merasa dicintai. Tak hanya itu, ayah yang baik juga mampu melepaskan “topeng” kekakuan sikapnya.

2. Jadilah pendengar yang baik. Kesediaan diri untuk menyediakan waktu bagi buah hatinya juga tidak hanya dilakukan sesekali saja. Melainkan dilakukan secara teratur dan penuh kesadaran, hingga ketersediaan waktunya benar-benar berkualitas dan terfokus sepenuhnya untuk si anak.

3. Semakin banyak waktu yang dihabiskan para ayah bersama anak-anaknya, semakin baik pengaruhnya. Inilah yang dinamakan efek dosis. Tak perlu hal-hal mewah atau mahal, cukup sekadar jalan-jalan di taman kompleks, ngobrol, dan melakukan aktivitas bersama. Ingat, dengan menyediakan waktu yang berkualitas, seorang ayah sudah melakukan banyak hal istimewa terhadap buah hatinya.

4. Tidak segan-segan mengantar dan menjemput mereka ke sekolah, serta menjalin komunikasi yang positif dengan para guru demi mengikuti perkembangan si kecil di sekolah. Perlu diketahui, seorang ayah yang antusias pada pendidikan anak-anaknya ternyata memberi kontribusi positif terhadap prestasi belajar anak di sekolah.

Ayah dan Alaya

Ayah dan Alaya

5. Turun tangan mengurus keperluan sehari-hari si anak, dari sekadar ngobrol sampai membacakan dongeng untuk si kecil. Sosok ayah seperti ini sadar sepenuhnya bahwa dalam keluarga, ia adalah seorang model bagi separuh populasi penduduk dunia, yakni para pria. Kepada anak laki-lakinya, tanpa banyak bicara, si ayah telah menunjukkan bagaimana menjadi pria sejati. Sementara kepada anak perempuannya, sang ayah menunjukkan bagaimana seorang laki-laki yang baik akan memperlakukan wanita secara elegan.

6. Seorang ayah yang baik juga mampu memberi anak-anaknya ra­sa percaya diri. Pengasuhan maupun perilaku yang buruk dari seorang ayah tercermin dalam ujud rendahnya rasa percaya diri si anak. Sebagai contoh, mereka yang semasa remaja terjerumus pada berbagai masalah ternyata mendapat pengasuhan yang negatif atau malah sama sekali tak pernah mendapat pengasuhan yang cukup dari ayahnya.

7. Jangan pernah meremehkan kemampuan anak “membaca” situasi. Seorang anak luar biasa sensitif terhadap penolakan, kekerasan sikap, maupun lontaran kritik dari sang ayah. Anak juga teramat peka, sehingga bisa merasakan apakah ayahnya mengabaikan dia alias sama sekali tidak menaruh peduli pada kehidupannya. Meski sedang berbicara ke­­pa­da­­ny­a, a­na­k bahkan bisa merasakan kalau pikiran dan hati sang ayah sedang mengembara alias tak terfokus padanya. Kalau anak berulang kali menghadapi kondisi tak menyenangkan seperti itu, jangan heran kalau si anak merasa dirinya bukanlah sosok yang cukup berharga di mata ayah. Perasaan tak berharga ini akan semakin tertanam kuat kala ia harus menghadapi lingkup yang lebih luas.

8. Ingat, bentuk-bentuk pengasuhan yang negatif dari ayah bisa menyebabkan penyimpangan perilaku yang memprihatinkan. Tindak kekerasan yang dilakukan ayah terhadap siapa pun berpengaruh sangat besar terhadap benih-benih agresivitas dalam diri si anak. Jadi, berhati-hatilah dalam bertindak.